Jumat, 09 Januari 2015

Topeng Klasik dari Bekonang


-
-
 Topeng klasik adalah topeng yang biasa dipakai dalam pentas sendratari klasik seperti cerita Panji, Minak Jingo dan Gunungsari yang saat ini mulai langka. Narimo (52) adalah satu-satunya perajin topeng klasik di Bekonang, Sukoharjo,  Jawa Tengah, yang hingga kini masih bertahan.
Dari tangannya, lahir ribuan topeng klasik yang keberadaannya mulai langka. Topeng-topeng karya Narimo biasanya dipergunakan sebagai pelengkap tarian, dan pertunjukan wayang topeng, seperti Kelono, Raja Mala, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno.
“Ini bukan sekadar bisnis, tapi sebenarnya lebih pada upaya memelihara budaya yang adiluhung. Dengan cara ini saya mencoba menjaga apa yang pernah ada,” ujar Narimo.
Seni topeng sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang di negeri ini. Pada masa perunggu, telah muncul topeng-topeng perunggu untuk ritual pemujaan. Kemudian di zaman Hindu, Majapahit, kesenian topeng mulai populer. Konon, raja besar   Hayam Wuruk pun pernah menarikan tari topeng  dalam sebuah perayaan kerajaan.
-
-
Pada masa kerajaan Mataram, tari dan wayang topeng dikenalkan oleh  Sunan sebagai syiar agama Islam dengan mengadopsi beberapa tarian warisan budaya Hindu-Buddha. Cerita Panji yang lahir pada masa Majapahit menjadi pijakan untuk menyampaikan dakwah. Topeng-topeng sebagai pelengkap cerita dan tarian sangat beragam sesuai buadaya masyarakat setempat. Misalnya topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos, hingga topeng Jawa Timur dengan ukiran yang berliku dan rumit.
Cerita Panji sendiri memiliki banyak versi, termasuk berbeda dalam penuturan ceritanya. Namun semuanya memiliki tema yang sama, yaitu  tentang cerita asmara antara putra mahkota kerajaan Janggala (Kahuripan) dengan putri kerajaan Panjalu (Kadiri) yang beribukotakan di Daha. Dalam kisah Panji, suasana yang disajikan adalah masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berkembang di wilayah Jawa (timur) dan Bali, bukan lingkungan istana dan pedesaan yang jauh di tanah India.
Namun, kini kesenian topeng klasik mulai ditinggalkan. Di wilayah Solo yang nota nene sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Jawa, misalnya, hanya menyisakan seorang perajin topeng klasik. Padahal, sekitar 20 tahun lalu, Desa Jatisobo ini dikenal sebagai sentra penghasil topeng klasik untuk kelengkapan tarian dalam cerita Panji dan  wayang topeng. Sekarang kondisinya sudah berubah. Para perajin topeng dari desa ini beralih profesi menjadi petani atau pedagang..
Bisa jadi karena pertunjukan tari dan wayang topeng tidak lagi banyak digelar.  Kebutuhan topeng klasik hanya sebatas untuk dipajang sebagai huasan dinding atau untuk keperluan akademis perguruan tinggi seni yang jumlahnya terbatas. Menjadi petani dan pedagang dirasa lebih menjanjikan.
Namun tidak bagi Narino. Dibantu istrinya, Supriyanti, dan beberapa  pegawainya, Narimo terus berkarya. Ia memproduksi topeng Raja Mala, Hanoman, Garuda Jaksa, Kelono,  Dewi Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun,  dan topeng Penthul-Tembem. Topeng-topeng buatan mereka tergolong halus dengan detail yang pas, menggambarkan karakter para tokohnya seperti Galuh Candra Kirana, Dewi Kili Suci, Batara Indra, Klana Raja
Proses pembuatan topeng dilakukan mulai memilih kayu, membentuk topeng, menatah dan kemudian mewarnai. Harga topeng-topeng ini berkisar mulai dari 6 ribu rupiah hingga 5 juta rupiah, tergantung ukuran dan motif topeng. Namun untuk topeng standar, harganya mulai dari 150 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah.  Bahan kayu yang digunakan biasanya dari jenis sengon, pule, puso, mahoni dan jati.
“Saya sudah 30 tahun mengeluti pekerjaan ini. Konsumennya tidak banyak. Selain untuk kebutuhan pentas, biasanya juga para turis asing atau kolektor seni. Saya  sangat mencintai topeng panji. Saya tidak ingin tradisi pembuatan topeng panji hilang,” kata dia.
Belajar Otodidak
Keahlian membuat topeng ini dipelajari Narimo secara otodidak. Awalnya dia justru menekuni pembuatan wayang. Namun Narimo kemudian mencoba belajar ke beberapa seniman topeng di Solo dan Gunung Kudul (Yogyakarta), hingga akhirnya terus bertahan hingga sekarang. Ketekunan inilah yang membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya-karya topengnya bahkan tersebar hingga Korea Selatan, Belanda, dan Jepang.
Narimo tak hanya belajar membuat topeng, tapi juga belajar mengenal tari topeng, terutama topeng Panji. Maka, tak heran jika dia paham benar tentang  karakter tokoh dalam tari topeng yang mengacu pada cerita Panji. Ia paham benar bagaimana mewujudkan sepotong kayu menjadi sebuah topeng yang membentuk karakter tertentu dalam kisahan cerita panji. Karakter kayu pun ia kenal benar. Untuk membuat topeng dengan kualitas yang baik, misalnya, diperlukan jenis kayu jaranan. Sedangkan untuk kualitas topeng kayu yang berikutnya adalah jenis kayu pule dan kayu putih (sengon).
Kayu jaranan memiliki keunggulan pada warnanya yang cenderung putih agak kekuningan, seratnya relatif lembut, tidak mudah pecah atau retak, tidak memiliki teras (galih) sehingga seluruh bagian kayunya berwarna nyaris sama. Selain itu jenis kayu jaranan juga relatif lunak ketika ditatah atau dikerat. Hanya saja jenis kayu atau tanaman jaranan ini nyaris tidak pernah dibudidayakan masyarakat. Jenis kayu ini biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Kayu jaranan juga memiliki keunggulan lain, yakni jika telah kering bobotnya cukup ringan sehingga jika dikenakan oleh penari maka tidak melelahkan penarinya.
Puluhan topeng karya Narimo biasanya dipajang di Galeri Panji yang sekaligus sebagai rumahnya, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai tempat. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior, antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.
-
-
Narimo sendiri adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya, Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.
Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.
Tahap pembuatan dimulai dari pemotongan kayu, penatahan, dan penyunggingan. Penyunggingan adalah pewarnaan baik dengan pengecatan ataupun teknik membatik. Supaya lebih efektif, proses pemotongan kayu dan pengukiran menjadi bentuk awal topeng diserahkan kepada para perajin di Yogjakarta. Namun untuk detil ia kerjakan sendiri. Terutama bagian rias wajah atau pelukisan raut muka.
“Istilahnya ulat-ulat. Sampai sekarang belum ada pekerja yang bisa membuatnya sesuai desain yang saya inginkan. Jadi harus saya kerjakan sendiri. Karena kalau salah sedikit saja akan merusak karakter wajah,” ujar Narimno.
Satu topeng jenis klasik yang berkualitas baik biasanya diselesaikan dalam 5 hari. Namun jika kelasnya massal, satu topeng bisa dirampungkan dalam satu hari.
“Tergantung mau dibuat seperti apa. Kalau bagus ya lama, kalau biasa-biasa saja lebih cepat. Kali suvenir topeng kecil-kecil biasanya 2-3 bulan bisa dapat 300-400 buah,” ujar perajin yang sudah pernah mengikuti pameran di Korea dan Singapura ini.
Sebelum krisis, Narimo bisa menjual karyanya sampai Jepang, namun sekarang penjualan hanya terbatas di dalam negeri. Pemot Solo pun memintanya untuk membuat topeng-topeng klasik raksasa sebagai penghias taman kota, antara lain di beberapa penggal ruas Jalan Slamet Riyadi, kawasan Ngarsopuro, Sriwedari, Taman Sekartaji,  dan sekitar pintu masuk Stadion Manahan.
Narimo mengaku saat ini sedang mencari pembeli yang bisa membantu penjualan karyanya ke manca negara. Bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan untuk mengenalkan topeng klasik ke dunia luar. Selama ini memang ada konsumen dari luar negeri, namun masih dalam skala kecil karena hanya perorangan. Narimo bermimpi topeng klasik akan mendunia seperti hanya batik.
“Mau pesan seperti apa akan saya layani dengan syarat saya mencoba kapasitas produksi saya dulu. Soalnya kalau ditarget harus jadi sekian ratus, nanti kualitasnya asal-asalan. Saya nggak puas kalau bekerja seperti itu,” katanya. (Ganug Nugroho Adi).
Sumber :  http://beritane.com/2013/12/13/topeng-klasik-dari-bekonang-2/

TOPENG BATIK DUSUN BOBUNG KABUPATEN GUNUNG KIGUL DIY JOGYAKARTA

Siapa yang tak kenal dengan kerajinan topeng batik ? ternyata kerajinan tersebut berasal dari sebuah dusun di willayah DIY Jogyakarta. 


Berawal dari kesenian rakyat berupa tari topeng, warga Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul mulai mengerjakan kerajinan topeng kayu pada tahun 1955. Seiring dengan perkembangan jaman, sekitar tahun 1980-an warga Desa Wisata Bobung mulai mengerjakan kerajinan topeng batik kayu sebagai pengembangan dari topeng kayu konvensional.

Saat ini, selain menghasilkan kerajinan topeng batik kayu yang umunya adalah topeng panji, perajin Bobung juga mampu menghasilkan sejumlah produk lainnya seperti lukisan, nampan, hingga berbagai jenis hiasan berupa hewan seperti katak, kura-kura, dan gajah.

Bahan baku yang dipergunakan adalah kayu pule, kayu sengon dan kayu terbelo puso. Untuk kayu pule dan sengon, warga Bobung bisa mendapatkannya di Gunung Kidul sendiri. Tapi untuk kayu terbelo puso yang terbilang lebih bagus harus membelinya dari Kulon Progo hingga Pacitan.

Dengan dalih ramah lingkungan, perajin bobung diwajibkan untuk "tebang satu pohon, tanam sepuluh pohon" di area seluas 78 ribu hektar di Gunung Kidul yang ditanami kayu pule dan sengon sebagai bahan utama kerajinan topeng batik kayu.

Menurut Pengelola Desa Wisata Bobung, Tumiran, perajin di Bobung dapat meraup pendapatan hingga Rp 180 juta per bulan. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan satu dusun dengan jumlah 245 perajin yang dikelola oleh sekitar sepuluh pengusaha. 
Meski masih tergolong terbatas dan masih menggunakan jasa penyalur, perajin topeng batik kayu Bobung telah menjual produknya hingga ke luar negeri. "Saat ini telah ada ekpor tapi terbatas dan lewat penyalur ke Italia dan Perancis," kata Tumiran.



Sebagai informasi, proses awal hingga akhir produksi dari kerajinan topeng batik kayu sepenuhnya dikerjakan oleh manusia. Proses memilih bahan baku, memahat hingga membatik atau mengukirnya adalah hasil keahlian tangan dari perajin Bobung yang kini semakin banyak dicari.

Mencapai Desa Wisata Bobung tergolong tidak sulit. Jalan beraspal yang cukup mulus tergolong sangat memadai bagi wisatawan termasuk untuk bus besar. Selain itu, meski masih terbatas, angkutan umum juga melewati daerah yang bisa menjadi tempat wisata alternatif ini.  
Di Dusun Bobung yang berjarak sekitar 30 arah tenggara Kota Yogyakarta ini, hampir semua warganya dapat menghasilkan kerajinan topeng batik kayu. Hal ini dapat dilihat dari salah satu tempat produksi kerajinan yang mengerjakan sekitar puluhan warga asli Bobung.

Beberapa jenis Topeng Batik dapat dilihat seperti dibawah ini :

Diolah oleh : Halimi,SE,MM
Dari Berbagai Sumber
Gambar : Google

KERAJINAN TOPENG BALI

Keberadaan kerajinan topeng tidaklah lepas dari keberadaan tari topeng itu sendiri, karena kerajinan topeng merupakan alat bantu dari tari topeng yang dipagelarkan. Baik Topeng yang berasal dari Cirebon, Solo, Malang bahkan topeng lainnya seperti Topeng Bali.
Sementara

Tari Topeng adalah tarian yang penarinya mengenakan topeng. Topeng telah ada di dunia sejak zaman pra-sejarah. Secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Diyakini bahwa topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Pada beberapa suku, topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat sehari-hari.
Cerita klasik Ramayana dan cerita Panji yang berkembang sejak ratusan tahun lalu menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendratari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut.

Oleh karena itu keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Tari Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.
Beberapa jenis Topeng Bali dapat dilihat dari gambar dibawah ini :


 Diolah  dari berbagai sumber
Gambar : Google



KERAJINAN LIMBAH PELEPAH PISANG

Pohon Pisang bukan hanya dapat dimanfaatkan buahnya saja tetapi limbah pelepah pisangpun bisa dimanfaatkan untuk beragam kerajinan tangan bahkan bisa pula untuk mempercantik furniture, kabarnya furniture belapis bahan pelepah pisang banyak penggemarnya diluar sana lho ?
Kita acungkan jempol bagi para pengrajin yang kreatif merubah limbah pelepah pisang menjadi beragam kerajinan yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi. Perlu pengembangan lebih lanjut serta perhatian pemerintah dalam menumbuh kembangkan usaha kerajinan pelepah pisang ini, sehingga akan muncul produk produk kerajinan baru yang berdaya saing dipasaran. Jika sudah demikian kedepan perkembangan kerajinan pelepah pisang akan semakin cerah dan banyak menuai konsumen didalam dan luar negeri.

Dibawah ini dapat dilihat beberapa jenis kerajinan berbahan baku pelepah pisang :
1. Kerajinan Tempat Pinsil dan kue :


2. Kerajinan Tempat Tisue :


3. Sandal jepit hotel :
4. Lukisan hiasan dinding :
5. Aneka Bunga :
6. Aneka Furniture :
Diolah oleh : Halimi,SE,MM.
Gambar : Google











Kamis, 08 Januari 2015

Topeng Malangan

 (foto doc, musem wayang indonesia)

Di Malang, pernah muncul tari topeng yang sempat melegenda menjadi tari topeng Malangan. Kini tari itu tergerus zaman, seperti juga nasib maestro penari topengnya, Mbah Karimun, kini sudah meninggal dunia dan menjadi sejarah. Tak banyak lagi pewarisnya yang bakal mempopulerkan tari topeng ini.

Tepatnya di d, Kec. Pakisaji, Kab. Malang tinggal seorang penerus kerajinan topeng malangan yaitu bapak Sukasto, beliau juga bisa membuat dan menari topeng malangan. Bersama teman-teman (kelompok tugas mata kuliah PPKJ) melakukan wawancara kepada beliau, dan kami meminta beliau melihatkan cara membuat topeng dan cara menarikan topeng malangan tersebut.
Bapak Sukasto mempunyai keinginan yang sudah lama diinginkannya yaitu mempunyai sanggar menari, pengajuan proposal ke dinas terkait sudah dilakukan tapi tidak kunjung terlaksana, beliau hanya bisa mengajarkan tari topeng malangan di halaman rumahnya, beliau beberapa bulan yang lalu diundang di Jogjakarta untuk menerima piagam kesenian.
Topeng malangan juga bisa kita lihat di Rumah seni di jl. Sumbersari di dekat kampus Universitas Islam Negeri Malang, disitu banyak terpajang topeng malangan, kalau teman-teman bloger jauh untuk menuju kec. Pakishaji hanya sekedar melihat topeng malangan dapat melihat di Rumah Seni tersebut.
Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung. Dalam pementasannya mengetengahkan ceritera-ceritera Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar atau masuk para penarinya.
Sumber : http://momoby.tumblr.com/post/2306686315/topeng-malangan
Gambar : Google

Gambar gambar Topeng Malang :


Sejarah Topeng Malangan


Sejarah Topeng Malangan
Sejarah Topeng Malangan
Beberapa wanita terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang menghaluskan ukiran topeng kayu, mengamplas, membatik dan merendam topeng yang telah selesai di batik kedalam pewarna. Puluhan topeng dan berbagai jenis ukiran kayu tampak menumpuk dalam kardus yang baru saja datang dari pengrajin lain.
Adalah desa Wisata Bobung yang terletak di desa Putat, kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya sekitar 10 km menuju arah barat Kota Wonosari atau sekitar 30 km menuju arah timur Kota Yogyakarta. Daerah ini dikenal sebagai sentra kerajinan batik kayu di Yogyakarta.
Sebelum dikenal sebagai desa pengrajin topeng kayu, warga Dusun Bobung lebih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian pokok. Setelah masa panen, mereka menggelar upacara syukuran dengan menggelar tari topeng dengan lakon Panji. Jenis topeng yang dipakai sebagai perangkat utama tarian adalah topeng klasik yang dibuat sendiri oleh penarinya tanpa di batik. Produksi topeng kayu di Dusun Bobung sudah ada sejak sekitar tahun 1960-an.  Dari sinilah, asal muasal munculnya kerajinan topeng kayu Bobung. Hingga kini topeng kayu Bobung semakin dikenal dan mendunia. Topeng dan patung-patung kayu itu diekspor ke beberapa negara bagian Asia, Amerika dan Eropa.
Sajiman adalah perintis kerajinan topeng kayu batik. Ia mulai merintis usaha ini sekitar tahun 1985. Sebelumnya, ia hanya membuat topeng klasik untuk keperluan seni tari topeng. Namun, kini ia mulai lebih banyak memproduksi topeng kayu batik untuk keperluan hiasan. Kerajinan topeng batik yang dibuat Sajiman mampu membantu menggerakan perekonomian warga, juga meningkatkan pembangunan Dusun Bobung. Buktinya, kini banyak pemuda dan orang tua yang terlibat dalam usaha pembuatan kerajinan topeng kayu dan berbagai produk kerajinan kayu lainnya. 
"Awalnya tak sedikit pemuda dan orang tua yang pergi meninggalkan desa untuk merantau, tapi kini tidak lagi" katanya.
Seiring banyaknya permintaan topeng kayu Bobung, sejak 1980-an, banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi pengrajin topeng kayu. Baru pada tahun 1990, kreasi topeng kayu Bobung ditambahkan dengan ornamen batik karena disukai oleh pembeli. Berbagai jenis topeng batik dihasilkan disini untuk memenuhi kebutuhan pasar kerajinan. Bukan untuk seni pertunjukan. Dan sentuhan motif batik menjadi ciri khas pada setiap kerajinannya.
 
“Pelanggan suka dengan kerajinan topeng batik ini,” katanya. 
Sajiman bahkan memberikan pelatihan kepada pemuda untuk mengatasi pengangguran. Tak aneh jika saat ini terdapat 800 perajin kayu. Dan tersebar di berbagai bengkel kerajinan kayu di sekitar desa. Mereka kebanyakan petani dan warga sekitar. Kesabaran dan kerja keras Sajiman berhasil menggerakkan dan mengatasi pengangguran di desanya. Warga mulai bisa menabung dan meningkatkan perekonomiannya. Desa Bobung lebih bergeliat dan dikenal sebagai desa perajin topeng batik. 
Desa Bobung masuk dalam binaan PNPM Mandiri Pariwisata. Keberadaan kerajinan kayu menjadi daya tarik desa ini. Selain itu, desa yang hanya ditempuh sekitar satu jam dari Yogyakarta ini masih menyimpan potensi lain: pertunjukan seni topeng klasik dan keindahan panorama alamnya.
Fasilitas yang dimiliki oleh Desa Wisata Bobung ini juga relatif lengkap. Fasilitas yang ada diantaranya adalah tempat parkir yang luas dan kamar mandi umum. Wisatawan juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan topeng - topeng kayu di bengkel kerja para pengerajin. Lokasi tersebut juga dilengkapi dengan t ruang gallery / ruang pameran dimana kita bisa melihat produk -produk hasil kerajinan tangan para pengerajin. Tersedia juga home visit yang diperuntukan bagi wisatawan yg ingin belajar membuat topeng kayu.
Akses menuju lokasi Desa Wisata bobung ini sangatlah mudah. Karena lokasi berdekatan dengan jalan utama Jogja-Wonosari, maka kondisi jalan telah halus di aspal serta sering dilewati kendaraan umum. Wisatawan dapat memanfaatkan kendaraan umum tersebut maupun menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat.
PNPM Mandiri Pariwisata mengucurkan dana sebesar Rp 123 miliar pada tahun 2013 untuk pengembangan desa wisata di 980 desa di 33 provinsi. Dana pengembangan desa wisata ini semakin meningkat untuk menumbuhkan potensi wisata. Dan diharapkan bisa membantu perekonomian warga desa. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahkan menargetkan tahun 2015 bisa membentuk 2.000 desa wisata di seluruh Indonesia. 
“Kita latih warga agar bisa berbahasa Inggris. Termasuk memberikan pelayanan kepada setiap tamu,” katanya.
- See more at: http://katadata.co.id/foto/2014/08/07/sajiman-topeng-kayu-bobung-yang-mendunia#sthash.tIvTowrh.dpuf

Rabu, 07 Januari 2015

Cara Pembuatan Topeng Cirebon

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu jaran. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng Cirebon.

Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

  1. Kayu gelondongan dibentuk segitiga dan dihaluskan permukaannya
  2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian-bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya
  3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan pahat
  4. Setelah cukup rapi, seluruh permukaan wajah diolesi cat dasar, kemudian diamplas.
  5. Setelah cat kering, mulailah wajah topeng itu didandani dengan menggunakan cat warna. Tentu saja disesuaikan dengan jenis topengnya.
Semua jenis topeng ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng Cirebonan yang diiringi dengan gamelan. Tepeng Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda :

  • Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir
  • Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
  • Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja
  • Patih (Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
  • Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi alm , salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.
Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Topeng_Cirebon
Gambar : google

Selasa, 06 Januari 2015

Mimi Rasinah Tokoh Penari Topeng Cirebon

Rasinah yang akrab dipanggil Mimi Rasinah (lahir di Indramayu, 3 Februari 1930 – meninggal di Indramayu, 7 Agustus 2010 pada umur 80 tahun) adalah seorang empu tari topeng Cirebon, satu-satunya yang tersisa sejak wafatnya Sawitri, penari topeng Cirebon asal Losari pada 1999.




Perjalanan hidup Mimi Rasinah yang tetap berpegang teguh pada kebudayaan kuno tari topeng sampai akhir hayat menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Rhoda Grauer, menjadi sutradara atas film dokumenter yang berdurasi 54 menit yang berjudul Rasinah: The Enchanted Mask .

Riwayat Hidup :


Dari kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Pada umur 5 tahun ia sudah diajarkan menari oleh ayahnya yang berprofesi sebagai dalang dan ibunya yang berprofesi sebagai dalang ronggeng. Menginjak Mimi Rasinah berusia 7 tahun, ia mulai berkeliling untuk bebarangan atau mengamen tari topeng. Ketika bangsa Jepang sampai ke Indramayu, rombongan topeng ayahnya dituduh oleh Jepang sebagai mata-mata, sehingga semua aksesori tari topeng dimusnahkan oleh bangsa Jepang hingga hanya satu topeng saja. Pada agresi yang kedua dengan tuduhan yang sama, ayahnya tewas ditembak oleh Belanda.
Sepeninggal ayahnya, rombongan tari topeng Rasinah dipimpin suaminya, seorang dalang wayang. Sampai tragedi G 30 S, mereka dilarang untuk manggung, karena tariannya yang membangkitkan membangkitkan syahwat dan abangan. Tak cukup badai Gestapu, pada tahun 1970-an kelompok tari topeng Rasinah semakin sepi tanggapan, pentas tarling, dangdut,dan sandiwara yang menggantikannya. Suami Rasinah akhirnya menjual seluruh topeng dan aksesoris tari sebagai modal mendirikan grup sandiwara. Rasinah berhenti menari topeng selama 20 tahun lebih, hanya menabuh gamelan saja untuk sandiwara.
Baru pada 1994, Endo Suanda dan seorang rekannya sesama dosen di STSI Bandung, Toto Amsar Suanda, "menemukan kembali" Rasinah. tarian topeng Kelana yang dipertunjukkan Rasinah membuat keduanya terpesona. Aura magis yang ada, serta karakter yang berubah-ubah sesuai dengan karakter 8 topeng yang ada, dari mulai topeng panji sampai kelana, membuatnya terpesona. Seketika itu juga semangat Rasinah untuk menari kembali bangkit, dan Rasinah mulai kembali berpentas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak yang menyebutnya klasik. Mimi Rasinah juga aktif mengajarkan tari topeng ke sekolah-sekolah yang ada di Indramayu.


Akhir Hayat :

Pada tahun 2006, Rasinah jatuh pada saat mengambil air wudhu setelah mengajar tari di sebuah sekolah di Indramayu. Dua pekan setelah dirawat di RSHS, Mimi mengakhiri jalan tarinya. Ia mewariskan seluruh topeng dan aksesorinya kepada Aerli Rasinah, sang cucu penerus, dalam sebuah upacara yang mengharukan sekali. Pada 15 Maret Aerli harus bebarangan di tujuh tempat dalam sehari sebagai syarat untuk meneruskan Mimi Rasinah. Sejak hari itu, keberadaan sanggar pun berada di pundah mahasiswa STSI Bandung berusia 22 tahun ini.
Meski sebagian tubuhnya lumpuh akibat stroke,[6] namun semangat Rasinah untuk menari tetap ada, Rasinah berkata "Saya akan berhenti menari kalau sudah mati". Hal ini dibuktikan pada tarian terakhirnya, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran "Indramayu dari Dekat", setelah tarian itu dia dia jatuh sakit dan dirawat di RSUD Indramayu. Pada tanggal 7 Agustus 2010 Mimi Rasinah akhirnya meninggal dunia, namun aktivitas menari di sanggar tarinya masih tetap berjalan.[7]
Pekandangan, Indramayu, Indramayu pada hari Minggu, 08/08/2010 sekitar pukul 9:00 WIB. Ratusan iring-iringan pelayat mengantarkan kepergian sang maestro yang namanya telah mendunia karena tari topengnya. Prosesi pemakaman maestro tari topeng Indramayu berlangsung secara sederhana. Warga yang turut mengantar jasad sang maestro topeng gaya Indramayu sampai diperistirahatannya yang terakhir. Namun hanya sejumlah seniman dan pejabat setempat yang hadir untuk mengikuti prosesi pemakaman.
Mimi Rasinah dikebumikan di desa

 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mimi_Rasinah
Gambar : google