Senin, 12 Januari 2015

Jual Kulit Kerang ke Amerika, Ronzi Raup Omzet Puluhan Juta


Tak dipungkiri, produk kerajinan Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Para buyers asing, terutama dari Amerika dan Eropa kian meminati produk yang telah ‘terkontaminasi’ oleh sentuhan seni dan budaya Indonesia tersebut. Sebut saja lighting craft, tepatnya produk kerajinan lampu yang terbuat dari kulit kerang. Berbagai varian produk kerajinan dari kulit kerang ini pun sangat diminati oleh pasar internasional.
Banyaknya limbah kulit kerang yang terbuang begitu saja, rupanya menyulut kreativitas perajin asal Jepara ini. Mereka kemudian merangkai dan menyulap bau amis kulit kerang tersebut menjadi ragam produk menarik dan bernilai jual tinggi. Sebut saja berbagai kreasi lampu hias yang dirangkai dari potongan-potongan dan sisa kulit kerang. Usaha semacam ini pun kini menjadi peluang bisnis menjanjikan bagi terkumpulnya pundi-pundi rupiah.
Kerajinan Kerang
Moh. Ronzi, Pemilik Indomarco (Foto: Pius)
Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Indomarco. Usaha yang berlamat di Jepara, Jawa Tengah dan Cirebon, Jawa Barat (Antika) ini telah memiliki begitu banyak kreasi kerajinan lampu hias dengan memanfaatkan limbah kulit kerang.
Sejatinya Indomarco adalah sebuah perusahaan furniture/mebel yang sudah berdiri sejak 2005 lalu. Namun pada 2008, perusahaan ini baru mulai mengembangkan sayap bisnisnya pada kerajinan lampu hias dari kulit kerang.
“Kami melihat begitu banyak kulit kerang bertumpukan di pantai di sekitar Jepara. Tidak ada yang memanfaatkan kulit kerang tersebut. Dari situ kami mulai berpikir untuk bisa memanfaatkan dan mengolah kulit kerang tersebut untuk dijual,” tutur Moh. Ronzy, pemilik Indomarco.
Pada awalnya, Ronzi memulai dari produk kecil, berupa lampu-lampu hias berukuran kecil. Produk-produk tersebut pun dititipkan ke sebuah perusahaan yang sudah lama bermitra dengan Indomarco. Tak sengaja, buyers asing yang datang ke perusahaan itu pun tertarik pada lampu-lampu hias dari kulit kerang milik Ronzi tersebut.
“Kami langsung dapat orderan satu container. Itu baru satu model saja,” ujar Ronzi kepada IndoTrading News.
Kerajinan Kerang
Varian Erotiz Lamp (Foto: Dok. Indomarco)
Transaksi perdana tersebut rupanya semakin memotivasi Ronzi untuk terus mengembangkannya. Peluang usaha baru ini pun mulai serius digarap dengan menghadirkan berbagai varian, model dan desain lampu yang menarik.
Adapun lampu-lampu hias kulit kerang yang diproduksi Indomarco mulai dari yang berukuran kecil hingga lampu hias berukuran besar, baik untuk dalam ruang (indoor) maupun luar ruang (outdoor). Lighting craft tersebut, antaralain lamp motif painting (big egon painting dan small egon lamp); standing lamp (erotiz lamp dan jerycoo lamp); dan table lamp. Lampu-lampu hias tersebut memiliki beragam varian yang dapat dipilih sesuai kegunaan dan keinginan, seperti varian eggs lamp, remix lamp, valon lamp, erotiz lamp, jerycoo lamp, round lamp, square lamp, voda lamp, egon lamp, ball lamp, dan varian hery lamp, serta masih banyak lagi.
Kerajinan Kerang
Big & Small Egon Painting (Foto: Dok. Indomarco)
“Sampai sekarang sudah ada lebih dari 200 model,” katanya.
Untuk lampu-lampu berukuran besar, pengerjaannya bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu. Sementara berukuran sedang dan kecil, bisa dikerjakan hanya dalam hitungan jam atau hingga 1-2 hari. Material lain yang digunakan selain kulit kerang, adalah fiber glass, perekat, dan beberapa bahan lainnya.
“Pertama, kami bentuk dulu fiber-nya sesuai dengan model dan desain yang sudah kami rencanakan. Setelah terbentuk, baru kami tempelkan kulit-kulit kerang. Kemudian disiram dengan cairan khusus fiber sehingga menyatu dengan fiber-nya,” Ronzi menjelaskan proses pengerjaannya.
Untuk pewarnaan, pada umumnya produk Indomarco ini masih mempertahankan warna-warna alami kulit kerang. Warna natural tersebut menjadikan Lighting craft milik Ronzi kian nyentrik dan unik, apalagi jika dipadukan dengan nyala lampu.
Kerajinan Kerang
Big & Small Egg Lamp (Foto: Dok. Indomarco)
Ronzi menjamin produknya tersebut memiliki kualitas yang sangat teruji dan bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Pun demikian, tahan panas dan hujan. Sepuluh karyawan yang bekerja di Indomarco pun sudah sangat mahir merangkai setiap produk yang dikerjakan. “Kalau kotor, kita semprot saja pakai air, tidak apa-apa.”
Produk-produk lighting craft besutan Indomarco rupanya mendapat respons pasar yang sangat positif. Masyarakat luas, termasuk mancanegara sangat ingin memiliki ragam lampu hias produksi tangan perajin Indonesia ini. Tak hanya melayani pasar dalam negeri, sejauh ini, pasar-pasar di luar negeri, seperti ke Amerika dan Eropa juga terus memesan lighting craft dari Indomarco.
“Kalau untuk lokal, kebanyakan pembeli kami adalah hotel-hotel, seperti di Bogor, Jakarta, Jawa Tengah, dan lainnya. Sementara untuk pasar luar negeri, Amerika merajai dengan rutinitas pengiriman sebanyak 1 kontainer per bulannya. Selain Amerika, ada juga ke Prancis dan beberapa negara lainnya di Eropa dan Asia,” terang Ronzi.
Para pemesan, sambung dia, juga dapat memesan produk-produk tersebut sesuai keinginannya, baik model dan bentuk desain, serta motif yang diinginkan.
Kerajinan Kerang
Squaree Lamp (Foto: Dok. Indomarco)
Produk kerajinan kulit kerang ini dipasarkan dengan harga yang bervariasi, yakni mulai dari Rp 200 hingga Rp 3 juta. Kini, Omzet rata-rata Indomarco dari hasil menjual kerajinan kulit kerang tersebut telah mencapai Rp 20 juta-Rp 30 juta per bulannya.
Sebagai usaha kecil menengah (UKM) yang tengah tumbuh, Ronzi mengakui jika perusahaanya masih terkendala pada pemasarannya. Dia berharap agar pemerintah maupun BUMN dapat terus membina dan memperhatikan, dan terutama dapat membuka akses pasar bagi penjualan produknya. [pio]
Indomarco (Workshop & Showroom):
Jl. Raya Welahan Jepara KM 25, Gedangan Jepara, Jawa Tengah 59464
HP: +62 81564 775 66, atau +62 8777 0154 099
Website: www.indoantika.com
Jl. Raya Pelimanan – Jakarta KM 21, Tegal Karang, Cirebon, Jawa Barat 45161
Phone : +62 231 3328157
Fax: +62 231 322155
Eemail: info@indoantika.com atau nzy_jpr@yahoo.com


Meraup Dollar AS dari Kulit Kerang


KOMPAS/SIWI YUNITA CAHYANINGRUM Nur Handiah J Taguba, pengusaha kerajinan kulit kerang dari Cirebon, Jawa Barat

Nur Handiah J Taguba, pengusaha kerajinan kulit kerang dari Cirebon, Jawa Barat
Oleh Siwi Yunita C Di tangan Nur Handiah Jaime Taguba, kulit kerang simping atau capiz shell tak lagi hanya sampah. Dengan kreativitasnya, kulit kerang yang bertebaran di pantai Cirebon, Jawa Barat, itu menjadi berbagai perkakas bernilai dollar AS. Pemilik Perusahaan Multi Dimensi Shell Craft ini yang mampu membawa kulit kerang pantura menembus dunia.
Pasar kerajinan kulit kerang di Eropa dan Amerika Serikat yang sebelumnya hanya dikuasi Filipina telah ia jajaki. Jerman, Spanyol, Italia, Inggris, Jerman, Polandia, Bulgaria, Rusia, dan Amerika Serikat menjadi negara-negara tujuan ekspornya selama ini.
Setiap bulannya perusahaan yang ia pimpin bisa mengirim sekitar dua kontainer kerajinan ke pasar internasional. Sebuah volume ekspor yang tidak kecil bagi pengusaha yang memulai usaha dari nol ini.
Kesuksesan Nur itu berawal dari kejeliannya melihat peluang. Awalnya perempuan kelahiran Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 49 tahun yang lalu itu memanfaatkan tumpukan kulit kerang untuk diekspor ke Filipina pada tahun 2000.
Kebetulan ibu dari lima anak ini mempunyai relasi dengan para perajin kulit kerang di tanah kelahiran suaminya, Jaime Taguba, di Filipina.
”Awalnya hanya menyuplai bahan baku saja. Kebetulan pembuatan kerajinannya ada di Filipina. Jadi, kami memasok bahan bakunya,” kata Nur di bengkel kerjanya, April 2010.
Meski sudah mampu mengurangi sampah pantai dan ikut terlibat dalam menghidupi warga sekitar, termasuk nelayan, Nur tidak ingin berhenti di titik itu.
Menurutnya kerang yang ia kirimkan seharusnya bisa lebih berharga lagi jika ada nilai tambahnya. Akhirnya ia mulai menjual bahan baku dengan kondisi lebih baik lagi, yakni yang sudah dibersihkan. Dari hasil jual kulit kerang bersih itu, ia bisa mendapatkan hasil yang lebih dan bisa mempekerjakan lebih banyak orang.
Dalam perkembangannya, Nur pun berinisiatif menggeluti industri kerajinan sendiri. Dibantu sang suami, Nur mengawali kreativitasnya dalam mengolah kulit kerang menjadi kap lampu di bengkel kerjanya di Astapada, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon.
Mulanya hanya jenis lampu gantung, lalu berkembang menjadi berbagai macam produk lain dengan model dan ukuran. Lampu duduk, misalnya, ada yang model berdiri serta ditempel di dinding. Kesemuanya menggunakan bahan kulit kerang, terutama kerang simping yang diperolehnya dari para nelayan di pantura.
Dari sekadar lampu itu, hasil karyanya berkembang lagi menjadi furnitur. Meja rias dengan berbagai bentuk yang unik dan glamor, meja tamu, hingga kursi santai. Inovasinya terus mengalir hingga kemudian muncul dinding berornamen kerang hingga lantai keramik dari kerang. Perhiasan mulai dari gelang, kalung, hingga anting pun tak luput dari bidikannya.
Bahannya pun tak lagi hanya dari kerang simping, tetapi juga dari kerang dara atau kerang lain yang selama ini juga hanya menjadi sampah dan terbuang begitu saja di tepi pantai. Sesuatu yang diyakini juga terjadi di seluruh wilayah Indonesia, negara dengan lebih dari 17.000 pulau ini.
Dengan sentuhan seni dan kreativitas, sampah kulit kerang yang awalnya tak berharga itu kini berubah menjadi perkakas cantik dan glamor yang digemari masyarakat, terutama di Eropa.
Tujuh ruang pamernya di Cirebon, Bali, dan Jakarta kini penuh dengan berbagai macam hasil karya kerangnya. Bahkan, bisa dikatakan hanya menggambarkan sedikit dari karya yang telah ia buat.
Usahanya juga telah mengangkat perekonomian warga di sekitarnya. Jumlah karyawan di bengkel kerjanya kini tidak hanya 60 orang seperti saat ia memulai karier sebagai pengekspor kulit kerang, tetapi berkembang menjadi 500 orang. Mereka rata-rata adalah kaum perempuan dan ibu-ibu di sekitar pusat kerajinannya, yang awalnya tidak bekerja. Kini perekonomian keluarga mereka terbantu.
Kuncinya di kreativitas
Kreativitas selama ini memang menjadi kunci yang selalu dipegang Nur Handiah. Selama ini saingan berat bisnisnya adalah para perajin dari Filipina yang telah lebih dulu terjun dalam industri kulit kerang.
Nur memang sempat menyewa desain khusus. Namun, ia akhirnya lebih memilih belajar mendesain sendiri karena selama ini desainnya ternyata juga bisa diterima di pasaran internasional.
Bukan hal yang mudah menciptakan barang yang laku di pasaran. Demi sebuah ide, Nur harus meluangkan waktu untuk belajar, membuka wawasan, membaca berbagai rubrik desain, dan menyempatkan diri untuk berkontemplasi, bahkan survei.
Promosinya dalam mengenalkan kerajinan kulit kerangnya juga tak terbatas di dalam ruang pamer. Ketika harus bertemu dengan orang lain, perempuan yang selalu berpenampilan rapi ini mengenakan berbagai pernak-pernik dari kulit kerang, mulai dari aksesori hingga tas tangan. Semuanya agar langsung diketahui orang lain. Bahkan, rumahnya pun berhias kulit kerang.
Ia juga memutar otak untuk bisa membuat barangnya tetap terjangkau di pasaran. Dengan trik desain tertentu, sebuah sofa berhiaskan kulit kerang bisa berharga lebih murah dibandingkan dengan sofa yang dibuat oleh perajin dari Filipina. Dengan berbagai jalan itulah ia mampu bersaing dengan perajin luar negeri lain meski baru saja memulai bisnis sepuluh tahun lalu.
Nur mengakui, bisnisnya memang sempat surut ketika dunia digoyang krisis ekonomi akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009. Meski demikian, pasarnya tidak mati.
Permintaan dari Amerika Serikat memang berkurang, tetapi Eropa tetap memberikan tempat bagi kerajinannya. Kini pasar kerajinannya di Amerika Serikat berangsur-angsur pulih.
Di dalam negeri sendiri, kerajinan kulit kerang belum banyak ditiru oleh perajin lain. Padahal, bahan baku sangat mudah didapati. Nur tidak pernah kesulitan mendapatkan 60 ton kulit kerang setiap bulan untuk bahan bakunya. ”Mungkin orang mengira ini kerajinan dari sampah sehingga kurang menarik, mungkin juga karena keuntungannya kecil,” katanya merendah.
Meski demikian, Nur mengaku tetap setia pada kulit kerang. Menurutnya, yang penting bukan dari mana bahannya, tetapi jadi apa hasilnya. Bagi Nur, sampah bisa menjadi apa saja tergantung dari cara merawatnya. Jika dibuang tetap, akan menjadi sampah. Namun, jika dirawat, bisa lebih berguna, misalnya kulit kerang bisa dinilai dalam dollar AS seperti apa yang telah ia lakukan.
Sumber : http://female.kompas.com/read/2010/06/14/15080225/meraup.dollar.as.dari.kulit.kerang

Gambar Kerajinan Kerang (dari Google) :



Jumat, 09 Januari 2015

Tari Topeng dari Betawi



Kidnesia.com - Tari Topeng Betawi . Siapa tak kenal tarian ini? Mungkin kau pernah melihatnya, atau bahkan pernah menarikannya.Tetapi, tahukah kau, bahwa tarian ini adalah bagian dari pertunjukan teater tradisional?
Tari Topeng Betawi adalah tarian tradisional khas masyarakat Betawi. Gerakannya lincah dan riang. Biasanya, tarian ini diiringi musik gambang kromong. Penarinya menggunakan topeng kayu.
Pada zaman dulu, Tari Topeng Betawi merupakan bagian dari pertunjukan Topeng Betawi.
Topeng Betawi adalah pertunjukan gabungan antara seni drama, tarian, dan nyanyian. Mirip seperti pertunjukan teater.
Topeng Betawi dulu sering dipertunjukkan secara keliling. Terutama, bila ada acara yang dianggap cukup penting.
Misalnya, acara khitanan atau pernikahan. Grup Topeng Betawi biasanya ditanggap atau disewa untuk memeriahkan acara tersebut.
Nah, Tari Topeng biasanya dijadikan tarian pembuka atau penutup pertunjukan Topeng Betawi. Namun sayang, kini, kesenian Topeng Betawi sudah jarang dipertunjukkan lagi.
 Untunglah, Tari Topeng Betawi sudah jadi sebuah pertunjukan tersendiri. Sehingga, tarian ini masih sering dipentaskan.
Beraneka ragam Tari Topeng Betawi yang dikenal, antara lain : Tari Lipet Gandes, Tari Topeng Tunggal, Tari Enjot-enjotan, Tari Gegot, Tari Topeng Cantik, Tari Topeng Putri, Tari Topeng Ekspresi, dan Tari Kang Aji.
Ternyata, menarikan Tari Topeng Betawi enggak mudah, lo! Penarinya harus memiliki tiga syarat.
Pertama, si penari harus gandes. Gandes artinya luwes atau gemulai. Yang kedua, si penari harus ajar. Ajar artinya ceria atau riang.
Jadi, si penari tidak boleh kelihatan murung atau sedih. Dan yang ketiga, penari harus menari dengan lincah tanpa beban.
Istimewanya lagi, tarian ini dibawakan dengan menggunakan topeng kayu. Agar topeng itu menempel di wajah penari, penari harus menggigit bagian belakang topeng.
Kalau tak terbiasa, hi hi hi… pasti bakal terasa capek dan pegal!
Oh ya, mungkin kau teringat tari topeng dari Jawa Barat yang juga menggunakan topeng kayu. Yup, Tari Topeng Betawi memang dipengaruhi budaya Sunda.
Topeng yang digunakannya pun mirip topeng Tari Topeng Banjet dari Karawang, Jawa Barat.
Yuk, ikut menari Tari Topeng Betawi! Hati jadi riang, badan jadi sehat, dan tradisi khas Betawi jadi lestari.
Teks: Dwi, Foto: Ricky Martin

 Beberapa Gambar Tari Topeng Betawi :
 
 Sumber : http://www.kidnesia.com/Kidnesia2014/Indonesiaku/Teropong-Daerah/DKI-Jakarta/Seni-Budaya/Tari-Topeng-dari-Betawi
Gambar : Google

Solo Unik: Topeng Klasik dari Jatisobo


TOPENG6 (didik nini thowok)
Didik Nini Thowok dengan topeng Jatisobo
Topeng klasik adalah topeng yang biasa dipakai dalam pentas sendratari klasik seperti cerita Panji, Minak Jingo dan Gunungsari yang saat ini mulai langka. Narimo adalah satu-satunya perajin topeng klasik di wilayah Surakarta, Jawa Tengah yang hingga kini masih bertahan.
Pekerjaan membuat topeng ini dilakukan di teras dan bagian belakang rumahnya di Jatisobo RT 02 RW 06, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Meski peminat kerajinan topeng klasik mulai berkurang, namun Narimo mengaku dia pernah sepi order.
Didik Nini Thowok
Didik Nini Thowok
Dibantu istrinya, Supriyanti, dan 5 pegawainya, Narimo yang juga karyawan Taman Budaya Surakarta (TBS), dalam sebulan bisa memproduksi topeng Rojo Molo 4 biji dengan harga Rp 600 ribu per biji, 8 topeng Hanoman, 4 Garuda Jaksa, dan 15 kelono yang harganya Rp 400 ribu-500 ribu; kemudian topeng 20 Dewi Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun dengan harga Rp 300 ribu, 30 patung Penthul tembem masing-masing Rp 150 ribu; serta ratusan asesori, seperti gantungan kunci dan bandul kalung yang dijual Rp 10 ribuan.
Proses pembuatan topeng dilakukan mulai memilih kayu, membentuk topeng, menatah dan kemudian mewarnai. Harga topeng-topeng ini berkisar mulai dari 6 ribu rupiah hingga 5 juta rupiah, tergantung ukuran dan motif topeng. Namun untuk topeng standar, harganya mulai dari 150 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah. Topeng klasik ini digunakan dalam pentas sendratari klasik misalnya cerita Dewi Sekar Panji Asmara Bangun atau Minak Jingo, Damar Wulan. Sayangnya, pentas sendratari ini mulai jarang ditampilkan.
Narimo mengaku sudah lebih dari 30 tahun mengeluti pekerjaan membuat topeng ini. Selainseniman tari, pembeli topeng klasik ini biasanya para turis asing atau kolektor seni
TOPENG1Keahlian membuat topeng ini dipelajari Narimo secara otodidak, sebab awalnya dia menekuni pembuatan wayang. Namun Narimo kemudian mencoba belajar kebeberapa seniman topeng di Solo dan akhirnya menekuninya hingga sekarang. Ketekunan inilah yang membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya-karya topengnya bahkan tersebra hingga Korea Selatan, Belanda, dan Jepang.
Topeng Tari
Puluhan topeng karya Narimo biaan dipajang di ruang tengah rumahnya, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai tempat. Topeng-topeng karya Narimo biasanya dipergunakan untuk menari, atau pertunjukan wayang topeng. Seperti Kelono, Raja Molo, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior, antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.
TOPENG2Narimo sendiri adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya, Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.
Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.
Sejarah Wayang Topeng
Pengenalan wayang topeng itu disifatkan pada kedatangan Sunan Kalijaga, salah seorang walisongo abad XV seiringan delapan handai taulan lainnya memutus berdomisili di buana Nusantara (pulau Jawa) agar memancarkan agama Islam. Namun beberapa tarian adalah warisan tata adab Hindu-Buddha.
Penari-penari menyelenggarakan cerita wiracarita India seperti misalnya epos Mahabharata atau hikayat-hikayat khas setempat dan topeng dimanfaatkan guna mewakili para tokoh. Topeng-topengnya berpusparagam dari topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos hingga topeng Jawa Timur yang ukirannya sangat berliku-liku.
Jadi, tak sekadar bisnis, membuat topeng adalah juga memelihara budaya yang adiluhung. Dengan begitu, Narimo dan Supriyati adalah pemelihara budaya yang hidup dari ketekunannya bergelut dengan topeng.
Jika Anda ingin berkunjung ke Galeri Panji milik Narimo, dari Solo bisa lewat Baturono, menyeberang jembatan Mojo hingga akhirnya Bekonang. Ikuti jalan raya lurus beraspal, hingga sampai petigaan Jatisobo. Galeri Panji letaknya di sekitar SDN Jatisobo. (kabarsoloraya.com/Ganug Nugroho Adi)
Sumber :  http://beritane.com/2009/08/14/solo-unik-topeng-klasik-dari-jatisobo/

Topeng Klasik dari Bekonang


-
-
 Topeng klasik adalah topeng yang biasa dipakai dalam pentas sendratari klasik seperti cerita Panji, Minak Jingo dan Gunungsari yang saat ini mulai langka. Narimo (52) adalah satu-satunya perajin topeng klasik di Bekonang, Sukoharjo,  Jawa Tengah, yang hingga kini masih bertahan.
Dari tangannya, lahir ribuan topeng klasik yang keberadaannya mulai langka. Topeng-topeng karya Narimo biasanya dipergunakan sebagai pelengkap tarian, dan pertunjukan wayang topeng, seperti Kelono, Raja Mala, Sekartaji, Panji, Pentul, Tembem, Cakil, Buto Terong, Punakawan dan Durno.
“Ini bukan sekadar bisnis, tapi sebenarnya lebih pada upaya memelihara budaya yang adiluhung. Dengan cara ini saya mencoba menjaga apa yang pernah ada,” ujar Narimo.
Seni topeng sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang di negeri ini. Pada masa perunggu, telah muncul topeng-topeng perunggu untuk ritual pemujaan. Kemudian di zaman Hindu, Majapahit, kesenian topeng mulai populer. Konon, raja besar   Hayam Wuruk pun pernah menarikan tari topeng  dalam sebuah perayaan kerajaan.
-
-
Pada masa kerajaan Mataram, tari dan wayang topeng dikenalkan oleh  Sunan sebagai syiar agama Islam dengan mengadopsi beberapa tarian warisan budaya Hindu-Buddha. Cerita Panji yang lahir pada masa Majapahit menjadi pijakan untuk menyampaikan dakwah. Topeng-topeng sebagai pelengkap cerita dan tarian sangat beragam sesuai buadaya masyarakat setempat. Misalnya topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos, hingga topeng Jawa Timur dengan ukiran yang berliku dan rumit.
Cerita Panji sendiri memiliki banyak versi, termasuk berbeda dalam penuturan ceritanya. Namun semuanya memiliki tema yang sama, yaitu  tentang cerita asmara antara putra mahkota kerajaan Janggala (Kahuripan) dengan putri kerajaan Panjalu (Kadiri) yang beribukotakan di Daha. Dalam kisah Panji, suasana yang disajikan adalah masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berkembang di wilayah Jawa (timur) dan Bali, bukan lingkungan istana dan pedesaan yang jauh di tanah India.
Namun, kini kesenian topeng klasik mulai ditinggalkan. Di wilayah Solo yang nota nene sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Jawa, misalnya, hanya menyisakan seorang perajin topeng klasik. Padahal, sekitar 20 tahun lalu, Desa Jatisobo ini dikenal sebagai sentra penghasil topeng klasik untuk kelengkapan tarian dalam cerita Panji dan  wayang topeng. Sekarang kondisinya sudah berubah. Para perajin topeng dari desa ini beralih profesi menjadi petani atau pedagang..
Bisa jadi karena pertunjukan tari dan wayang topeng tidak lagi banyak digelar.  Kebutuhan topeng klasik hanya sebatas untuk dipajang sebagai huasan dinding atau untuk keperluan akademis perguruan tinggi seni yang jumlahnya terbatas. Menjadi petani dan pedagang dirasa lebih menjanjikan.
Namun tidak bagi Narino. Dibantu istrinya, Supriyanti, dan beberapa  pegawainya, Narimo terus berkarya. Ia memproduksi topeng Raja Mala, Hanoman, Garuda Jaksa, Kelono,  Dewi Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun,  dan topeng Penthul-Tembem. Topeng-topeng buatan mereka tergolong halus dengan detail yang pas, menggambarkan karakter para tokohnya seperti Galuh Candra Kirana, Dewi Kili Suci, Batara Indra, Klana Raja
Proses pembuatan topeng dilakukan mulai memilih kayu, membentuk topeng, menatah dan kemudian mewarnai. Harga topeng-topeng ini berkisar mulai dari 6 ribu rupiah hingga 5 juta rupiah, tergantung ukuran dan motif topeng. Namun untuk topeng standar, harganya mulai dari 150 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah.  Bahan kayu yang digunakan biasanya dari jenis sengon, pule, puso, mahoni dan jati.
“Saya sudah 30 tahun mengeluti pekerjaan ini. Konsumennya tidak banyak. Selain untuk kebutuhan pentas, biasanya juga para turis asing atau kolektor seni. Saya  sangat mencintai topeng panji. Saya tidak ingin tradisi pembuatan topeng panji hilang,” kata dia.
Belajar Otodidak
Keahlian membuat topeng ini dipelajari Narimo secara otodidak. Awalnya dia justru menekuni pembuatan wayang. Namun Narimo kemudian mencoba belajar ke beberapa seniman topeng di Solo dan Gunung Kudul (Yogyakarta), hingga akhirnya terus bertahan hingga sekarang. Ketekunan inilah yang membuat Narimo mencapai tangga keberhasilan. Karya-karya topengnya bahkan tersebar hingga Korea Selatan, Belanda, dan Jepang.
Narimo tak hanya belajar membuat topeng, tapi juga belajar mengenal tari topeng, terutama topeng Panji. Maka, tak heran jika dia paham benar tentang  karakter tokoh dalam tari topeng yang mengacu pada cerita Panji. Ia paham benar bagaimana mewujudkan sepotong kayu menjadi sebuah topeng yang membentuk karakter tertentu dalam kisahan cerita panji. Karakter kayu pun ia kenal benar. Untuk membuat topeng dengan kualitas yang baik, misalnya, diperlukan jenis kayu jaranan. Sedangkan untuk kualitas topeng kayu yang berikutnya adalah jenis kayu pule dan kayu putih (sengon).
Kayu jaranan memiliki keunggulan pada warnanya yang cenderung putih agak kekuningan, seratnya relatif lembut, tidak mudah pecah atau retak, tidak memiliki teras (galih) sehingga seluruh bagian kayunya berwarna nyaris sama. Selain itu jenis kayu jaranan juga relatif lunak ketika ditatah atau dikerat. Hanya saja jenis kayu atau tanaman jaranan ini nyaris tidak pernah dibudidayakan masyarakat. Jenis kayu ini biasanya tumbuh di pinggir-pinggir sungai. Kayu jaranan juga memiliki keunggulan lain, yakni jika telah kering bobotnya cukup ringan sehingga jika dikenakan oleh penari maka tidak melelahkan penarinya.
Puluhan topeng karya Narimo biasanya dipajang di Galeri Panji yang sekaligus sebagai rumahnya, sebelum akhirnya menyebar ke berbagai tempat. Topeng-topeng lainnya yang digunakan untuk asesori interior, antara lain ada motif Merak, Bunga, Bulan Sabit dan Badak. Sementara topeng-topeng buat sovenir, gantungan kunci dan bandul kalung lebih beraneka ragam: dari topeng yang bermotif bunga hingga rojo molo.
-
-
Narimo sendiri adalah prototipe orang kampung yang ulet. Sejak lulus Sekolah Dasar di tempat kelahirannya, Klaten, ia telah memulai membuat wayang kulit. Empat tahun kemudian, minat seninya bertambah hingga memutuskan untuk belajar membuat topeng. Kala itu, ia hijrah ke Kota Surakarta, belajar membuat topeng kepada Bambang Suwarno, dosen STSI Solo Bagian Pedalangan.
Sambil terus menerus menggeluti topeng, Narimo tak menyia-nyiakan kesempatan ajakan budayawan Murtijono untuk turut aktif di Taman Budaya Surakarta (TBS). Ia juga bersekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta, hingga tamat pada 1989. Tak heran bila Narimo kian matang dalam berkarya. Lantas, topeng-topeng karya Narimo muncul ke pasaran.
Tahap pembuatan dimulai dari pemotongan kayu, penatahan, dan penyunggingan. Penyunggingan adalah pewarnaan baik dengan pengecatan ataupun teknik membatik. Supaya lebih efektif, proses pemotongan kayu dan pengukiran menjadi bentuk awal topeng diserahkan kepada para perajin di Yogjakarta. Namun untuk detil ia kerjakan sendiri. Terutama bagian rias wajah atau pelukisan raut muka.
“Istilahnya ulat-ulat. Sampai sekarang belum ada pekerja yang bisa membuatnya sesuai desain yang saya inginkan. Jadi harus saya kerjakan sendiri. Karena kalau salah sedikit saja akan merusak karakter wajah,” ujar Narimno.
Satu topeng jenis klasik yang berkualitas baik biasanya diselesaikan dalam 5 hari. Namun jika kelasnya massal, satu topeng bisa dirampungkan dalam satu hari.
“Tergantung mau dibuat seperti apa. Kalau bagus ya lama, kalau biasa-biasa saja lebih cepat. Kali suvenir topeng kecil-kecil biasanya 2-3 bulan bisa dapat 300-400 buah,” ujar perajin yang sudah pernah mengikuti pameran di Korea dan Singapura ini.
Sebelum krisis, Narimo bisa menjual karyanya sampai Jepang, namun sekarang penjualan hanya terbatas di dalam negeri. Pemot Solo pun memintanya untuk membuat topeng-topeng klasik raksasa sebagai penghias taman kota, antara lain di beberapa penggal ruas Jalan Slamet Riyadi, kawasan Ngarsopuro, Sriwedari, Taman Sekartaji,  dan sekitar pintu masuk Stadion Manahan.
Narimo mengaku saat ini sedang mencari pembeli yang bisa membantu penjualan karyanya ke manca negara. Bukan semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan untuk mengenalkan topeng klasik ke dunia luar. Selama ini memang ada konsumen dari luar negeri, namun masih dalam skala kecil karena hanya perorangan. Narimo bermimpi topeng klasik akan mendunia seperti hanya batik.
“Mau pesan seperti apa akan saya layani dengan syarat saya mencoba kapasitas produksi saya dulu. Soalnya kalau ditarget harus jadi sekian ratus, nanti kualitasnya asal-asalan. Saya nggak puas kalau bekerja seperti itu,” katanya. (Ganug Nugroho Adi).
Sumber :  http://beritane.com/2013/12/13/topeng-klasik-dari-bekonang-2/

TOPENG BATIK DUSUN BOBUNG KABUPATEN GUNUNG KIGUL DIY JOGYAKARTA

Siapa yang tak kenal dengan kerajinan topeng batik ? ternyata kerajinan tersebut berasal dari sebuah dusun di willayah DIY Jogyakarta. 


Berawal dari kesenian rakyat berupa tari topeng, warga Dusun Bobung, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul mulai mengerjakan kerajinan topeng kayu pada tahun 1955. Seiring dengan perkembangan jaman, sekitar tahun 1980-an warga Desa Wisata Bobung mulai mengerjakan kerajinan topeng batik kayu sebagai pengembangan dari topeng kayu konvensional.

Saat ini, selain menghasilkan kerajinan topeng batik kayu yang umunya adalah topeng panji, perajin Bobung juga mampu menghasilkan sejumlah produk lainnya seperti lukisan, nampan, hingga berbagai jenis hiasan berupa hewan seperti katak, kura-kura, dan gajah.

Bahan baku yang dipergunakan adalah kayu pule, kayu sengon dan kayu terbelo puso. Untuk kayu pule dan sengon, warga Bobung bisa mendapatkannya di Gunung Kidul sendiri. Tapi untuk kayu terbelo puso yang terbilang lebih bagus harus membelinya dari Kulon Progo hingga Pacitan.

Dengan dalih ramah lingkungan, perajin bobung diwajibkan untuk "tebang satu pohon, tanam sepuluh pohon" di area seluas 78 ribu hektar di Gunung Kidul yang ditanami kayu pule dan sengon sebagai bahan utama kerajinan topeng batik kayu.

Menurut Pengelola Desa Wisata Bobung, Tumiran, perajin di Bobung dapat meraup pendapatan hingga Rp 180 juta per bulan. Pendapatan tersebut merupakan pendapatan satu dusun dengan jumlah 245 perajin yang dikelola oleh sekitar sepuluh pengusaha. 
Meski masih tergolong terbatas dan masih menggunakan jasa penyalur, perajin topeng batik kayu Bobung telah menjual produknya hingga ke luar negeri. "Saat ini telah ada ekpor tapi terbatas dan lewat penyalur ke Italia dan Perancis," kata Tumiran.



Sebagai informasi, proses awal hingga akhir produksi dari kerajinan topeng batik kayu sepenuhnya dikerjakan oleh manusia. Proses memilih bahan baku, memahat hingga membatik atau mengukirnya adalah hasil keahlian tangan dari perajin Bobung yang kini semakin banyak dicari.

Mencapai Desa Wisata Bobung tergolong tidak sulit. Jalan beraspal yang cukup mulus tergolong sangat memadai bagi wisatawan termasuk untuk bus besar. Selain itu, meski masih terbatas, angkutan umum juga melewati daerah yang bisa menjadi tempat wisata alternatif ini.  
Di Dusun Bobung yang berjarak sekitar 30 arah tenggara Kota Yogyakarta ini, hampir semua warganya dapat menghasilkan kerajinan topeng batik kayu. Hal ini dapat dilihat dari salah satu tempat produksi kerajinan yang mengerjakan sekitar puluhan warga asli Bobung.

Beberapa jenis Topeng Batik dapat dilihat seperti dibawah ini :

Diolah oleh : Halimi,SE,MM
Dari Berbagai Sumber
Gambar : Google

KERAJINAN TOPENG BALI

Keberadaan kerajinan topeng tidaklah lepas dari keberadaan tari topeng itu sendiri, karena kerajinan topeng merupakan alat bantu dari tari topeng yang dipagelarkan. Baik Topeng yang berasal dari Cirebon, Solo, Malang bahkan topeng lainnya seperti Topeng Bali.
Sementara

Tari Topeng adalah tarian yang penarinya mengenakan topeng. Topeng telah ada di dunia sejak zaman pra-sejarah. Secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Diyakini bahwa topeng berkaitan erat dengan roh-roh leluhur yang dianggap sebagai interpretasi dewa-dewa. Pada beberapa suku, topeng masih menghiasi berbagai kegiatan seni dan adat sehari-hari.
Cerita klasik Ramayana dan cerita Panji yang berkembang sejak ratusan tahun lalu menjadi inspirasi utama dalam penciptaan topeng di Jawa. Topeng-topeng di Jawa dibuat untuk pementasan sendratari yang menceritakan kisah-kisah klasik tersebut.

Oleh karena itu keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Tari Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.
Beberapa jenis Topeng Bali dapat dilihat dari gambar dibawah ini :


 Diolah  dari berbagai sumber
Gambar : Google