Jumat, 09 Januari 2015

KERAJINAN LIMBAH PELEPAH PISANG

Pohon Pisang bukan hanya dapat dimanfaatkan buahnya saja tetapi limbah pelepah pisangpun bisa dimanfaatkan untuk beragam kerajinan tangan bahkan bisa pula untuk mempercantik furniture, kabarnya furniture belapis bahan pelepah pisang banyak penggemarnya diluar sana lho ?
Kita acungkan jempol bagi para pengrajin yang kreatif merubah limbah pelepah pisang menjadi beragam kerajinan yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi. Perlu pengembangan lebih lanjut serta perhatian pemerintah dalam menumbuh kembangkan usaha kerajinan pelepah pisang ini, sehingga akan muncul produk produk kerajinan baru yang berdaya saing dipasaran. Jika sudah demikian kedepan perkembangan kerajinan pelepah pisang akan semakin cerah dan banyak menuai konsumen didalam dan luar negeri.

Dibawah ini dapat dilihat beberapa jenis kerajinan berbahan baku pelepah pisang :
1. Kerajinan Tempat Pinsil dan kue :


2. Kerajinan Tempat Tisue :


3. Sandal jepit hotel :
4. Lukisan hiasan dinding :
5. Aneka Bunga :
6. Aneka Furniture :
Diolah oleh : Halimi,SE,MM.
Gambar : Google











Kamis, 08 Januari 2015

Topeng Malangan

 (foto doc, musem wayang indonesia)

Di Malang, pernah muncul tari topeng yang sempat melegenda menjadi tari topeng Malangan. Kini tari itu tergerus zaman, seperti juga nasib maestro penari topengnya, Mbah Karimun, kini sudah meninggal dunia dan menjadi sejarah. Tak banyak lagi pewarisnya yang bakal mempopulerkan tari topeng ini.

Tepatnya di d, Kec. Pakisaji, Kab. Malang tinggal seorang penerus kerajinan topeng malangan yaitu bapak Sukasto, beliau juga bisa membuat dan menari topeng malangan. Bersama teman-teman (kelompok tugas mata kuliah PPKJ) melakukan wawancara kepada beliau, dan kami meminta beliau melihatkan cara membuat topeng dan cara menarikan topeng malangan tersebut.
Bapak Sukasto mempunyai keinginan yang sudah lama diinginkannya yaitu mempunyai sanggar menari, pengajuan proposal ke dinas terkait sudah dilakukan tapi tidak kunjung terlaksana, beliau hanya bisa mengajarkan tari topeng malangan di halaman rumahnya, beliau beberapa bulan yang lalu diundang di Jogjakarta untuk menerima piagam kesenian.
Topeng malangan juga bisa kita lihat di Rumah seni di jl. Sumbersari di dekat kampus Universitas Islam Negeri Malang, disitu banyak terpajang topeng malangan, kalau teman-teman bloger jauh untuk menuju kec. Pakishaji hanya sekedar melihat topeng malangan dapat melihat di Rumah Seni tersebut.
Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung. Dalam pementasannya mengetengahkan ceritera-ceritera Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar atau masuk para penarinya.
Sumber : http://momoby.tumblr.com/post/2306686315/topeng-malangan
Gambar : Google

Gambar gambar Topeng Malang :


Sejarah Topeng Malangan


Sejarah Topeng Malangan
Sejarah Topeng Malangan
Beberapa wanita terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang menghaluskan ukiran topeng kayu, mengamplas, membatik dan merendam topeng yang telah selesai di batik kedalam pewarna. Puluhan topeng dan berbagai jenis ukiran kayu tampak menumpuk dalam kardus yang baru saja datang dari pengrajin lain.
Adalah desa Wisata Bobung yang terletak di desa Putat, kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya sekitar 10 km menuju arah barat Kota Wonosari atau sekitar 30 km menuju arah timur Kota Yogyakarta. Daerah ini dikenal sebagai sentra kerajinan batik kayu di Yogyakarta.
Sebelum dikenal sebagai desa pengrajin topeng kayu, warga Dusun Bobung lebih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian pokok. Setelah masa panen, mereka menggelar upacara syukuran dengan menggelar tari topeng dengan lakon Panji. Jenis topeng yang dipakai sebagai perangkat utama tarian adalah topeng klasik yang dibuat sendiri oleh penarinya tanpa di batik. Produksi topeng kayu di Dusun Bobung sudah ada sejak sekitar tahun 1960-an.  Dari sinilah, asal muasal munculnya kerajinan topeng kayu Bobung. Hingga kini topeng kayu Bobung semakin dikenal dan mendunia. Topeng dan patung-patung kayu itu diekspor ke beberapa negara bagian Asia, Amerika dan Eropa.
Sajiman adalah perintis kerajinan topeng kayu batik. Ia mulai merintis usaha ini sekitar tahun 1985. Sebelumnya, ia hanya membuat topeng klasik untuk keperluan seni tari topeng. Namun, kini ia mulai lebih banyak memproduksi topeng kayu batik untuk keperluan hiasan. Kerajinan topeng batik yang dibuat Sajiman mampu membantu menggerakan perekonomian warga, juga meningkatkan pembangunan Dusun Bobung. Buktinya, kini banyak pemuda dan orang tua yang terlibat dalam usaha pembuatan kerajinan topeng kayu dan berbagai produk kerajinan kayu lainnya. 
"Awalnya tak sedikit pemuda dan orang tua yang pergi meninggalkan desa untuk merantau, tapi kini tidak lagi" katanya.
Seiring banyaknya permintaan topeng kayu Bobung, sejak 1980-an, banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi pengrajin topeng kayu. Baru pada tahun 1990, kreasi topeng kayu Bobung ditambahkan dengan ornamen batik karena disukai oleh pembeli. Berbagai jenis topeng batik dihasilkan disini untuk memenuhi kebutuhan pasar kerajinan. Bukan untuk seni pertunjukan. Dan sentuhan motif batik menjadi ciri khas pada setiap kerajinannya.
 
“Pelanggan suka dengan kerajinan topeng batik ini,” katanya. 
Sajiman bahkan memberikan pelatihan kepada pemuda untuk mengatasi pengangguran. Tak aneh jika saat ini terdapat 800 perajin kayu. Dan tersebar di berbagai bengkel kerajinan kayu di sekitar desa. Mereka kebanyakan petani dan warga sekitar. Kesabaran dan kerja keras Sajiman berhasil menggerakkan dan mengatasi pengangguran di desanya. Warga mulai bisa menabung dan meningkatkan perekonomiannya. Desa Bobung lebih bergeliat dan dikenal sebagai desa perajin topeng batik. 
Desa Bobung masuk dalam binaan PNPM Mandiri Pariwisata. Keberadaan kerajinan kayu menjadi daya tarik desa ini. Selain itu, desa yang hanya ditempuh sekitar satu jam dari Yogyakarta ini masih menyimpan potensi lain: pertunjukan seni topeng klasik dan keindahan panorama alamnya.
Fasilitas yang dimiliki oleh Desa Wisata Bobung ini juga relatif lengkap. Fasilitas yang ada diantaranya adalah tempat parkir yang luas dan kamar mandi umum. Wisatawan juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan topeng - topeng kayu di bengkel kerja para pengerajin. Lokasi tersebut juga dilengkapi dengan t ruang gallery / ruang pameran dimana kita bisa melihat produk -produk hasil kerajinan tangan para pengerajin. Tersedia juga home visit yang diperuntukan bagi wisatawan yg ingin belajar membuat topeng kayu.
Akses menuju lokasi Desa Wisata bobung ini sangatlah mudah. Karena lokasi berdekatan dengan jalan utama Jogja-Wonosari, maka kondisi jalan telah halus di aspal serta sering dilewati kendaraan umum. Wisatawan dapat memanfaatkan kendaraan umum tersebut maupun menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat.
PNPM Mandiri Pariwisata mengucurkan dana sebesar Rp 123 miliar pada tahun 2013 untuk pengembangan desa wisata di 980 desa di 33 provinsi. Dana pengembangan desa wisata ini semakin meningkat untuk menumbuhkan potensi wisata. Dan diharapkan bisa membantu perekonomian warga desa. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bahkan menargetkan tahun 2015 bisa membentuk 2.000 desa wisata di seluruh Indonesia. 
“Kita latih warga agar bisa berbahasa Inggris. Termasuk memberikan pelayanan kepada setiap tamu,” katanya.
- See more at: http://katadata.co.id/foto/2014/08/07/sajiman-topeng-kayu-bobung-yang-mendunia#sthash.tIvTowrh.dpuf

Rabu, 07 Januari 2015

Cara Pembuatan Topeng Cirebon

Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu jaran. Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng Cirebon.

Langkah-langkah pembuatan topeng Cirebon adalah sebagai berikut:

  1. Kayu gelondongan dibentuk segitiga dan dihaluskan permukaannya
  2. Mulai dipahat sedikit demi sedikit terutama untuk peletakan bagian-bagian wajah seperti mata, pipi, dan bibir. Bagian hidung harus lebih timbul dari bagian lainnya
  3. Setiap permukaan wajah mulai dibentuk dengan menggunakan pahat
  4. Setelah cukup rapi, seluruh permukaan wajah diolesi cat dasar, kemudian diamplas.
  5. Setelah cat kering, mulailah wajah topeng itu didandani dengan menggunakan cat warna. Tentu saja disesuaikan dengan jenis topengnya.
Semua jenis topeng ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng Cirebonan yang diiringi dengan gamelan. Tepeng Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda :

  • Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir
  • Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah
  • Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja
  • Patih (Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab
  • Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah
Menurut Hasan Nawi alm , salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.
Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Topeng_Cirebon
Gambar : google

Selasa, 06 Januari 2015

Mimi Rasinah Tokoh Penari Topeng Cirebon

Rasinah yang akrab dipanggil Mimi Rasinah (lahir di Indramayu, 3 Februari 1930 – meninggal di Indramayu, 7 Agustus 2010 pada umur 80 tahun) adalah seorang empu tari topeng Cirebon, satu-satunya yang tersisa sejak wafatnya Sawitri, penari topeng Cirebon asal Losari pada 1999.




Perjalanan hidup Mimi Rasinah yang tetap berpegang teguh pada kebudayaan kuno tari topeng sampai akhir hayat menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Rhoda Grauer, menjadi sutradara atas film dokumenter yang berdurasi 54 menit yang berjudul Rasinah: The Enchanted Mask .

Riwayat Hidup :


Dari kecil Mimi sudah menggeluti tari topeng yang diajarkan ayahnya. Pada umur 5 tahun ia sudah diajarkan menari oleh ayahnya yang berprofesi sebagai dalang dan ibunya yang berprofesi sebagai dalang ronggeng. Menginjak Mimi Rasinah berusia 7 tahun, ia mulai berkeliling untuk bebarangan atau mengamen tari topeng. Ketika bangsa Jepang sampai ke Indramayu, rombongan topeng ayahnya dituduh oleh Jepang sebagai mata-mata, sehingga semua aksesori tari topeng dimusnahkan oleh bangsa Jepang hingga hanya satu topeng saja. Pada agresi yang kedua dengan tuduhan yang sama, ayahnya tewas ditembak oleh Belanda.
Sepeninggal ayahnya, rombongan tari topeng Rasinah dipimpin suaminya, seorang dalang wayang. Sampai tragedi G 30 S, mereka dilarang untuk manggung, karena tariannya yang membangkitkan membangkitkan syahwat dan abangan. Tak cukup badai Gestapu, pada tahun 1970-an kelompok tari topeng Rasinah semakin sepi tanggapan, pentas tarling, dangdut,dan sandiwara yang menggantikannya. Suami Rasinah akhirnya menjual seluruh topeng dan aksesoris tari sebagai modal mendirikan grup sandiwara. Rasinah berhenti menari topeng selama 20 tahun lebih, hanya menabuh gamelan saja untuk sandiwara.
Baru pada 1994, Endo Suanda dan seorang rekannya sesama dosen di STSI Bandung, Toto Amsar Suanda, "menemukan kembali" Rasinah. tarian topeng Kelana yang dipertunjukkan Rasinah membuat keduanya terpesona. Aura magis yang ada, serta karakter yang berubah-ubah sesuai dengan karakter 8 topeng yang ada, dari mulai topeng panji sampai kelana, membuatnya terpesona. Seketika itu juga semangat Rasinah untuk menari kembali bangkit, dan Rasinah mulai kembali berpentas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Keseriusan Mimi Rasinah dalam menggeluti kesenian ini dibuktikan dengan mempertahankan tradisi tari ini, sehingga banyak yang menyebutnya klasik. Mimi Rasinah juga aktif mengajarkan tari topeng ke sekolah-sekolah yang ada di Indramayu.


Akhir Hayat :

Pada tahun 2006, Rasinah jatuh pada saat mengambil air wudhu setelah mengajar tari di sebuah sekolah di Indramayu. Dua pekan setelah dirawat di RSHS, Mimi mengakhiri jalan tarinya. Ia mewariskan seluruh topeng dan aksesorinya kepada Aerli Rasinah, sang cucu penerus, dalam sebuah upacara yang mengharukan sekali. Pada 15 Maret Aerli harus bebarangan di tujuh tempat dalam sehari sebagai syarat untuk meneruskan Mimi Rasinah. Sejak hari itu, keberadaan sanggar pun berada di pundah mahasiswa STSI Bandung berusia 22 tahun ini.
Meski sebagian tubuhnya lumpuh akibat stroke,[6] namun semangat Rasinah untuk menari tetap ada, Rasinah berkata "Saya akan berhenti menari kalau sudah mati". Hal ini dibuktikan pada tarian terakhirnya, ia menari di Bentara Budaya Jakarta dalam acara pentas seni dan pameran "Indramayu dari Dekat", setelah tarian itu dia dia jatuh sakit dan dirawat di RSUD Indramayu. Pada tanggal 7 Agustus 2010 Mimi Rasinah akhirnya meninggal dunia, namun aktivitas menari di sanggar tarinya masih tetap berjalan.[7]
Pekandangan, Indramayu, Indramayu pada hari Minggu, 08/08/2010 sekitar pukul 9:00 WIB. Ratusan iring-iringan pelayat mengantarkan kepergian sang maestro yang namanya telah mendunia karena tari topengnya. Prosesi pemakaman maestro tari topeng Indramayu berlangsung secara sederhana. Warga yang turut mengantar jasad sang maestro topeng gaya Indramayu sampai diperistirahatannya yang terakhir. Namun hanya sejumlah seniman dan pejabat setempat yang hadir untuk mengikuti prosesi pemakaman.
Mimi Rasinah dikebumikan di desa

 Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Mimi_Rasinah
Gambar : google



Selasa, 16 September 2014

Topeng Menyingkap Karakter Manusia Dan Sejarah Masyarakat

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., Msi, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.

Pertunjukan dengan mengenakan topeng merupakan seni pentas tertua di jagat ini. Hampir setiap bangsa di berbagai pelosok dunia mempunyai  benda seni penutup wajah dalam berbagai wujud dan watak. Kiranya hingga kini pun topeng-topeng itu masih menjadi bagian tradisi atau ekpresi estetik masyarakat manusia. Bahkan pada masyarakat yang masih lekat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, topeng bukan hanya dipandang sebagai sekedar penutup wajah namun dianggap memiliki kekuatan magis. Sedangkan keberadaan topeng pada masyarakat modern selain tetap diusung sebagai benda seni juga dikembangkan sebagai bentuk seni pertunjukan tari atau teater.

Masyarakat bhineka Indonesia memiliki beragam seni tari dan teater yang dalam penampilannya mengenakan topeng. Masyarakat suku Dayak di Kalimantan mewarisi topeng Hudoq yang biasanya hadir sebagai seni sakral dalam ritual keagamaan mohon kesuburan atau syukuran atas panen yang melimpah. Masyarakat desa Trunyan di tepi danau Batur, Bangli, hingga kini juga mengeramatkan pantomime bertopeng yang disebut Barong Berutuk. Teater menggunakan topeng berwajah primitip yang terbuat dari batok kelapa ini merupakan ritual mohon kesuburan. Selain tari topeng untuk mohon kesuburan, topeng di tengah masyarakat Nusantara umumnya dipakai sebagai perantara berhubungan dengan arwah nenek moyang seperti masih terlihat jejak-jejaknya kini pada suku Batak (Sumatera Utara), masyarakat Tolage-Alfur (Sulawesi Tengah), dan suku-suku di pedalaman Papua.

Topeng sebagai seni pertunjukan berkembang subur di Jawa dan Bali. Di pulau Jawa, tari dengan mengenakan topeng sudah dikenal sejak jaman Majapahit. Raja Brawijaya masyur sebagai penari topeng yang piawai. Demikian pula di Bali, tari atau teater dengan mengenakan topeng sudah berkembang pada abad ke-16-17, zaman kejayaan kerajaan Bali. Catatan-catatan tua berupa prasasti atau lontar juga telah menyinggung tentang adanya tari topeng atau kelompok pemain topeng. Batu bertulis Jaha yang ditemukan di pulau Jawa pada tahun 840 Masehi menyebutkan tentang atapukan yang artinya topeng. Di Bali, prasasti Bebetin 896 Masehi juga menyebutkan adanya partapukan yang artinya perkumpulan penari topeng.

Jawa dan Bali adalah dua wilayah budaya di Indonesia yang kaya dengan ekspresi seni tari dan teater yang menggunakan topeng. Di pulau Jawa, wilayah budaya Parahyangan memiliki seni tari dan teater bertopeng yang sangat khas. Masyarakat Sunda di Cirebon dikenal sebagai pewaris seni pertunjukan topeng yang tetap eksis hingga kini. Keberadaan topeng Cirebon patut diketengahkan sebab, menurut pakar tari Jawa, Edi Sedyawati, topeng Cirebon adalah mata air pertumbuhan dari tari-tarian Sunda yang kita kenal sekarang. Di Cirebon dan sekitarnya, tari topeng masih dapat disimak dalam upacara syukuran yang berkaitan dengan budaya pertanian dan perayaaan kebahagiaan perkawinan.

Pada awalnya, topeng Cirebon adalah media untuk menghormati arwah nenek moyang. Dalam perkembangannya, topeng ritual ini mendapat mengayoman kaum bangsawan. Pada masa Cirebon menjadi pusat penyebaran agama Islam, Sultan Cirebon Sunan  Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga memanfaatkan tari topeng sebagai media komunikasi dalam penyebaran agama. Begitu kuat dan luasnya pengaruh tari topeng sebagai alat siar agama Islam di tanah Pasundan pada masa lalu, hingga memitoskan Sunan Kalijaga sebagai pencipta tari topeng Cirebon. Hingga kini, penghormatan pada Sunan Kalijaga sebagai pencipta tari topeng masih dianut takzim oleh seniman topeng Cirebon.

Topeng Cirebon berorientasi dari cerita Panji, kisah kepahlawan raja-raja Jawa yang banyak dijadikan tema dalam seni pertunjukan tradisi, bukan hanya di Jawa dan Bali tapi juga di beberapa negara Asia Tenggara seperti Thailand. Di Negeri Gajah Putih, tokoh protagonis cerita Panji yaitu Inu Kertapati disebut dengan Inao. Di Bali, cerita Panji menjadi tema utama dari drama tari Gambuh, teater klasik sumber tari Bali. Opera Arja yang kini kian sayup tembangnya juga mengacu pada cerita Panji. Teater rakyat Drama Gong  pada masa kejayaaan tahun 1970-1980-an juga mengharubiru penonton dengan kisah romantis dan heriok Raden Inu Kertapati dengan kekasihnya Putri Candrakirana. Dalam topeng Cirebon, cerita Panji itu dituangkan dalam bentuk penonjolan seni tari seperti yang terlihat dalam Topeng Babakan dan secara naratif dalam Topeng Dalang atau Wayang Topeng.

Topeng Babakan yang hanya menyajikan potongan-potongan dari cerita Panji, lebih merupakan penampilan simbol-simbol kehidupan manusia lewat karakter 5-8 topeng. Diawali dengan penampilan Topeng Panji menggambarkan watak manusia yang arif, bijaksana dan rendah hati. Kemudian, Topeng Samba menggambarkan watak manusia yang suka hura-hura dan penuh canda. Topeng Tumenggung menggambarkan watak ksatria yang gagah berani dan percaya diri. Topeng Kalana menggambarkan sifat manusia yang tamak dan Topeng Rumyang melambangkan sifat ketakwaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain kelima tokoh itu ada pula tokoh Aki-aki dan Kedok Cina. Seluruh topeng-topeng itu dibawakan oleh seorang penari seperti Topeng Pajegan di Bali. Dulu masyarakat pecinta tari topeng di Jawa Barat mengenal dua maestro seni pertunjukan ini, yakni Mimi Sawitri dan Mimi Rasinah kini telah tiada.

Masyarakat Bali memiliki beberapa bentuk seni pertunjukan bertopeng. Namun yang lazim disebut topeng adalah adalah seni pentas ritual Topeng Pajegan. Pertunjukan topeng yang umumnya dibawakan secara solo oleh seorang penari ini tidak hanya hadir dalam prosesi keagamaan di halaman utama pura namun juga  berfungsi dalam upacara perkawinan, potong gigi, hingga ritus ngaben. Tema-tema kisah yang dibawakan bersumber dari babad, cerita semi sejarah, dengan puncak penampilan figur topeng berkarakter angker yang disebut Sidakarya.

            Seni pertunjukan Wayang Wong,  Barong Kedingkling, dan Barong Berutuk misalnya, juga memakai tapel tapi tak pernah disebut sebagai topeng. Wayang Wong yang berangkat dari sumber epos Ramayana seluruh pemerannya memakai tapel atau topeng. Barong Kedingkling yang biasanya hadir dalam tradisi ngelawang mempergunakan tapel figur-figur penting Ramayana. Begitu juga Barong Berutuk yang disakralkan di Desa Trunyan, Bangli, semua perannya menggunakan topeng bernuansa primitif. Namun ketiganya tak disebut seni pertunjukan topeng.  Rangda dan tari Jauk juga tidak digolongkan genre topeng.

            Seni pertunjukan bertopeng tergolong sangat tua dan hampir dapat dijumpai di seluruh dunia. Di Bali, kesenian yang diduga berkaitan dengan topeng termuat dalam prasasti Bebetin yang berangka tahun 869 Masehi. Dalam prasasti itu disinggung istilah partapukan yang artinya perkumpulan topeng. Sedangkan bagaimana bentuk dan apa lakonnya tidak jelas. Pertunjukan topeng diduga merupakan kreativitas seniman Bali yang bukan pengaruh kesenian Majapahit. Pada mulanya kesenian ini muncul pada era kejayaan Gelgel,  akhir abad ke-17. Konon I Gusti Pering Jelantik membawakan drama tari seorang diri dengan memakai topeng rampasan leluhurnya, Patih Jelantik, ketika Gelgel menaklukkan  Blambangan. Saat konflik politik mengguncang Gelgel, topeng-topeng itu diboyong ke Desa Blahbatuh sekitar tahun 1879 yang hinggi kini dikeramatkan di Pura Penataran Topeng.

            Pada tahun-tahun berikutnya, setelah pementasan di puri Gelgel tersebut, penampilan Topeng Pajegan itu kemudian menjadi kebiasaan di tengah-tengah masyarakat Bali, terutama ditradisikan saat prosesi keagamaan, odalan misalnya. Perkembangannya kemudian muncul Topeng Panca, drama tari topeng yang dibawakan oleh lima orang penari yang lebih mengarah sebagai seni pentas tontonan non ritual. Perkembangan ini bukannya membuat Topeng Pajegan surut, justru seni pentas ini kian multifungsi dalam beragam tingkatan dan hirarki upacara agama dan ritus kehidupan masyarakatnya.

            Pementasan Topeng Pajegan dimulai dengan penampilan tokoh yang berkarakter keras. Warna tapel-nya gelap kemerah-merahan, mata mendelik dan disertai sepasang kumis hitam tebal. Gerakannnya tangkas, gagah dengan ayunan langkah berwibawa. Sehabis tokoh ini, biasanya disambung dengan kemunculan topeng yang berkarakter tua renta. Rambut, alis, dan kumisnya memutih. Gerakannya lambat terbata-bata namun menampilkan sorot mata yang arif. Kedua figur ini disebut dengan topeng pengelembar, tari lepas, arena tempat pemain mempertontonkan kepiawaannya menari.

            Aspek dramatik sebuah pementasan Topeng Pajegan baru bergulir ketika muncul tokoh penasar yang lazim memakai tapel setengah terbuka, terutama pada mulut dan matanya. Penasar bertindak selaku narator, komentator, penterjemah, dan pelawak. Tokoh inilah yang mengendalikan alur cerita. Ketika ia kemudian berganti topeng berwatak tampan dengan tata gerakan alus penuh perhitungan, tokoh rajalah yang dibawakannya yang sering disebut topeng dalem atau arsawijaya. Kehadiran topeng dengan ekspresi karismatis ini memberikan perintah sesuatu, mungkin perang dan mungkin perdamaian.

Sumber : www.isi-dps.ac.id
Diunggah oleh :Halimi,SE,MM.

Sejarah dan Makna Tari Topeng Cirebon

Indonesia sudah terkenal dengan kebudayaan yang beraneka ragam yang ada di seluruh propinsi yang ada. Salah satu kebudayaan itu adalah seni tari. Seni tari setiap daerah mempunyai ciri khas yang berbeda dengan daerah lainnya. Salah satunya adalah tari topeng Cirebonan.

Sebagai salah satu tarian yang termahsyur di Jawa Barat, kesenian Tari Topeng Cirebon rasanya tak bisa dilepaskan dari karakter kuat yang melekat pada kesenian ini. Tari Topeng Cirebon merupakan sebuah gambaran budaya yang luhur, filsafat kehidupan yang menggambarkan sisi lain dari diri setiap manusia. Metamorfosis manusia dari waktu ke waktu untuk menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Tari Topeng yang pada asalanya sering dipentaskan di lingkungan keraton dan keudian mulai menyebar ke dalam lapisan masyarakat biasa (non keraton) kini   keberadaannya mulai sulit untuk dilihat. Tari Topeng kini hanya ditampilkan di beberapa kesempatan saja, di Cirebon sendiri beberapa kali saya melihat acara pernikahan yang menampilkan Tari Topeng sebagai pembuka seremonialnya, sisanya sulit rasanya melihat penampilan Tari Topeng, alasannya? Itu masih menjadi pertanyaan.

Menurut pendapat salah seorang seniman dari ujung gebang-Susukan-Cirebon, Marsita, kata topeng berasal dari kata” Taweng” yang berarti tertutup atau menutupi. Sedangkan menurut pendapat umum, istilah kata topeng mengandung pengertian sebagai penutup muka / kedok. Berdasarkan asal katanya tersebut, maka tari topeng pada dasarnya merupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya. Seperti yang telah diutarakan diatas, bahwa unsur-unsur yang terdapat dalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan- pesan terselubung, baik dari jumlah kedok, warna kedok, jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakann kesenian Tari Topeng setelah media dakwah kurang mendapat respon dari masyarakat.

Tari Topeg Cirebonan ternyata salah satu seni yang berisi hiburan juga mengandung simbol-simbol yang melambangkan berbagai aspek kehidupan seperti nilai kepemimpinan, kebijaksanaan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dilahirkan hingga menginjak dewasa. Dalam hubungan ini maka seni Tari Topeng ini dapat digunakan sebagai media komunikasi yang sangat positif sekali.

Sebenarnya Tari Topeng ini sudah ada jauh sejak abad 10-11M yaitu pada masa pemerintahan Raja Jenggala di Jawa Timur yaitu Prabu Panji Dewa. Melalui seniman jalanan Seni Tari Topeng ini masuk ke Cirebon dan mengalami akulturasi dengan kebudayaan setempat.

Pada masa Kerajaan Majapahit dimana Cirebon sebagai pusat penyebaran agama islam, Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga menggunakn Tari Topeng ini sebagai salah satu upaya untuk menyebarkan agama islam dan sebagai hiburan di lingkungan Keraton.


Tari topeng cirebon sendiri dapat digolongkan ke dalam lima karakter pokok topeng yang berbeda yaitu :


1. Topeng Panji. Digambarkan sebagai sosok manusia yang baru lahir, penuh dengan kesucian, gerakannya halus dan lembut. Tarian ini bagi beberapa pengamat tarian merupakan gabungan dari hakiki gerak dan hakiki diam dalam sebuah filosofi tarian.
 2. Topeng Samba, menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak-kanak, digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.
 3. Topeng Rumyang merupakan gambaran dari fase kehidupan remaja pada masa akhil balig
4. Topeng Tumenggung, gambaran dari kedewasaan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan
5. Topeng  Kelana/Rahwana merupakan visualisasi dari watak manusia yang serakah, penuh amarah, dan ambisi. Sifat inilah yang merupakan sisi lain dari diri manusia, sisi “gelap” yang pasti ada dalam diri manusia. Gerakan topeng Kelana begitu tegas, penuh dengan ambisi layaknya sosok raja yang haus ambisi duniawi.

Kelima karakter tari topeng Cirebon bila dikaitkan dengan pendekatan ajaran agama Islam dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Topeng Panji merupakan akronim dari kata MAPAN ning kang SIJI, artinya tetap kepada satu yang Esa atau dengan kata lain Tiada Tuhan selain Allah SWT.


 2. Topeng Samba Berasal dari kata SAMBANG atau SABAN yang artinya setiap. Maknanya bahwa setiap waktu kita diwajibkan mengerjakan segala Perintah- NYA.


 3. Topeng Rumyang. Berasal dari kata Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan).
Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir

4. Topeng Temenggung. Memberikan kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh

5. Topeng Klana. Kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.


Sumber
http://guruipsgempol1.wordpress.com/2012/03/27/tari-topeng-cirebon/
http://cirebonkukotaku.blogspot.com/2010/03/sejarah-perkembangan-pokok-pokok-tari.html
Diunggah kembali oleh : Halimi SE MM.

Minggu, 14 September 2014

Gambar Seputar Panca Wanda Topeng Cirebon


Topeng Cirebon sebagai alat penunjang utama Tari Topeng Cirebon yang dikenal dengan Panca Wanda (Lima Rupa) yakni Kelana/Rahwana, Tumenggung, Rumyang, Samba dan Panji memiliki bentuk berbeda dibawah ini gambar kelima topeng tersebut :
1. Kelana/Rahwana 

2.Tumenggung

3. Samba


4. Rumyang

5. Panji

Panca Wanda

Diunggah oleh : Halimi,SE,MM.
Tertarik dengan kerajinan Topeng Cirebon? hubungi kami.